Archive

Posts Tagged ‘sedih’

Kita Inginkan vs Kita Butuhkan

November 23, 2010 Leave a comment

Memahami hikmah saat kita tidak mendapatkan apa yang kita “inginkan” sangatlah sulit.

Saat tiba waktunya kita memperoleh yang lebih baik, baru kita sadari & syukuri kenapa kita tidak mendapat yang kita “inginkan” di masa lalu.

Sumber kekecewaan sebenarnya hanyalah perbedaan antara yang kita “inginkan” dengan yang nyata-nyata kita “dapatkan”.

Padahal Allah Maha Tahu, belum tentu yang kita “inginkan” itu baik untuk kita, sehingga kita diberi sesuatu yang lain yang memang kita “butuhkan”.

Andai hati ini selalu bersyukur dan yakin atas apapun yang terjadi sesungguhnya itu baik, maka tidak akan kita sedih atau kecewa dalam hidup ini.

Tapi memang bersyukur itu tidak mudah, kok. Perlu pendalaman, menundukkan diri, dan berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, kan? Semoga kita bisa menjadi seseorang yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun. (:

.

For all the people with “ikhlas” problem in their heart (including me then),

Intan

Advertisements

Berat

June 17, 2010 Leave a comment

Semuanya,

ijinkan saya membuang sampah hati yang sudah menumpuk dan akan terus bertambah entah ia dibuang atau tidak..

Saya begitu sedih, begitu marah, namun marah ini tidak akan mungkin mampu memenangkan sesuatu. Saya sangat gelisah, saya merasa hampa, saya perlu uluran tangan, namun setiap orang yang membantu saya justru akan ikut terpercik dan hangus saat ia menyentuh saya. Tentu saya tidak boleh egois.. Biarkan apa yang membara ini membakar diri tanpa perlu mengorbankan orang lain yang tak bersalah. Setiap sumbangan pemikiran dan bantuan yang ingin mereka tunjukkan kepada saya, cukup membuat hati yang tergerus emosi ini sejuk kembali karena saya tahu betapa besar kasih dan peduli yang mereka pendam untuk saya. Tapi untuk melilitkan tali masalah kendatipun hanya seujung jari tangan mereka, itu yang saya tak ingin.

Berat.

Tak tahan (sesungguhnya) dengan segala apa yang harus saya hadapi beberapa kurun waktu ini. Namun saya bukan selembar tissue yang akan hancur terkena gerimis. Saya lebih dari itu. Saya kuat. Bukankah begitu? Bukankah tak mungkin Yang Kuasa memikulkan pundi-pundi musibah tanpa mengukur bahu yang akan menopangnya?

Allah SWT.. Hamba yakin akan kuasa-Mu.. Segenap duri dalam hidup ini akan Kau ganti dengan indahnya buah yang ranum setelah hamba buktikan bahwa hamba mampu bersabar melewati semuanya..

Terima kasih ya, Allah.. karena tanpa dihadang susah, mata hati ini akan terbungkam oleh suka fana yang berkelimpahan, dan terkhilaf untuk berdoa dalam sujud ke hadirat-Mu..

.

Kuatkan aku, Allah..

-int-

Tidak Bersyukur

April 29, 2010 4 comments

Dan rasa-tidak-bersyukur itu datang lagi.

Tidak bersyukur karena aku merasa aku diperlakukan tidak adil. Tidak bersyukur karena aku merasa diperlakukan berbeda. Tidak bersyukur karena aku berada dalam lingkar batas yang tidak jelas, antara ada dan tiada.

ADA: karena aku memegang peranan penting bagi orang-orang di sekitarku dan secara nyata aku memang ada.

TIADA: karena aku dibedakan dengan teman sebayaku. Sendiri memikul beban yang mereka tidak tahu seberat apa, dan tidak akan pernah tahu seberat apa.

Aku penting. Aku penting. Aku penting. Tapi mengapa tidak ada yang peduli dengan hal-hal yang penting bagiku?

Hanya satu kupinta saat ini, aku bisa bertahan hingga aku berhasil membawa diriku ke tempat yang jauh lebih baik, jauh lebih mengerti, jauh lebih peduli, bukan hanya sebatas sederet angka yang tertera di slip gaji.

Aku bukan mengeluh, tapi aku hanya tidak bersyukur. Karena mengeluh adalah suatu yang dilakukan karena ada ketidakpuasan di sana. Aku bukan tidak puas. Aku sedih. Namun tak tahu haruskah bersedih atau tidak. Karena itu aku menyebutnya tidak bersyukur. Apabila mengeluh adalah -1 di dalam angka, dan syukur adalah +1, maka tidak bersyukurku adalah 0 yaitu kosong.

Dan aku pun tetap berusaha menjaga hati yang tidak bersyukur ini agar bersyukur, dan jauh aku menghindarkan diri dari mengeluh.

Allah SWT, Penguasa Semesta Alam, maafkan hamba yang tidak bersyukur, namun aku tak ingin kufur, Ya Rabb. Kuatkanlah hamba-Mu ini. Amin.

.

(catatan kecil di tengah gejolak hati saat berada di antara ingin pergi namun tak bisa berlari)