Archive

Posts Tagged ‘pernikahan’

The Bride & The Groom

September 14, 2012 2 comments

Cuma menyambung postingan Secangkir Kopi kemaren, ada satu foto di resepsi pernikahan kami yang mau saya tunjukkan ke teman-teman sekalian.. hehe.. *narsis kumat*

Advertisements
Categories: Just Me Tags: , , ,

Secangkir Kopi

September 3, 2012 2 comments

Selamat pagi..
Hari ini saya sampai di kantor agak sedikit lebih pagi. Suatu kebanggaan (walaupun hanya lebih pagi 30 menit dari biasanya..LOL) bagi saya yang udah dicap si bos suka dateng siang x). Menikmati secangkir kopi meski enggak modal–alias minta temen–rasanya sedap banget. Dan dengan kenikmatan adanya waktu luang tentunya, karena kemaren seharian kerjaan sudah saya babat habis-bis.

Sambil nyeruput kopi hangat, memikirkan kembali hidup yang sedang saya jalani. Saya sudah menikah lho, btw. Jadi inget punya utang cerita kronologi pertemuan dengan suami di Venezuela.. Iya, beneran. Saya menikah pada tanggal 15 Juni 2012 yang lalu, dan pertemuan dengan suami saya Edwin Moukarrom terjadi di Caracas, Venezuela akhir tahun 2011 silam pada saat saya magang 2 bulan di sana. Tenemos buenos tiempos juntos de verdad. Muy romantico, jejeje..

Saya hanya mengenalnya lebih dekat kurang lebih 3 minggu di sisa waktu saya di Caracas. Kembali ke tanah air 24 Januari 2012, dan tiba-tiba semua ini terjadi.. Pertemuan dengan keluarga suami di Jakarta pada 4 Febr 2012, seharusnya hanya dengan 1 orang kakaknya untuk sekedar menyampaikan titipan dari Caracas. Tapi lha dalah, saya kaget karena tiba-tiba 9 orang keluarganya sudah menanti.. Dan hari itu juga terjadiah ketok palu untuk memutuskan bahwa kami akan menikah di Juni 2012 ini.

Buset dah.. Persiapan demi persiapan yang sangat mendadak. Kalau dihitung-hitung hanya 4 bulan waktu yang tersisa utk segala persiapan. Tapi rupanya Allah Swt memang sudah berkehendak.. Gedung Convention Hall yang biasanya harus dibooking 6 bulan s.d setahun sebelumnya, kosong pada tanggal 17 Juni 2012. Perias manten Benn Bagoes yang pasti full booked, baru saja kosong utk tanggal 15 Juni (akad) dan 17 Juni (resepsi) karena calon pengantin sebelumnya meng-cancel. Luar biasa, inilah kuasa Allah..

Ada peer lagi untuk pengurusan tetek-bengek persuratan di KUA, karena mewajibkan kedua calon menyertakan dokumen semacam KTP dsb. Dan btw, suami saya sudah tidak punya KTP lagi sejak belasan tahun silam krn kelamaan di Caracas.. haha. Kita bingung banget gimana ngurusnya karena tidak bisa diwakilkan, sementara ybs posisi lagi nun jauh di sana di negeri telenovela. Dan sekali lagi kuasa Allah yang berbicara.. Suami mendapatkan tugas dinas untuk ke Jakarta di bulan Maret 2012. Lumayan banget ituuuu.. Tiket seharga kurang lebih 2ribu dolar gratis untuk ngurus ini itu ke KUA! Ya sekalian lah selain dinas.. hehe..

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Suami kembali ke Jakarta 3 Juni 2012, dan akhirnya kami resmi menikah di Surabaya 15 Juni 2012. Kami sekarang hidup bersama di Jakarta. Dan mengingat pertemuan+pedekate yang amat sangat singkat yaitu 3 minggu di Caracas, sekarang baru deh kami berpacaran setelah menikah.. hihi..

Inilah beberapa foto prewed kami yang diambil 5 Juni 2012 lalu (suami saya masih jetlag udah diajakin foto-foto..hehe..). Oh iya, foto ini diambil oleh fotografer sekaligus sahabat saya mbak Pungki Renanthera. And I really love the results! (:

Intinya saya sangat bahagia dengan pernikahan “mendadak” ini.. Kaget juga, nggak nyangka tiba-tiba saya sudah jadi istri orang.. hehe.. Sekian dulu ocehan saya. Mau lanjut nyeruput kopi hangat.. *slurrppp*

Hukum Pernikahan dalam Islam (Repost)

November 12, 2010 Leave a comment

Hanya repost.. tapi Insya Allah bermanfaat utk menambah wawasan.

Dalam pembahasan ini kita akan berbicara tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama ketika membahas hukum pernikahan, menemukan bahwa ternyata menikah itu terkadang bisa menjadi sunnah, terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan. Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah satu persatu.

1. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya

Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya. Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya : Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33)

2. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya

Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif. Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT. Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam. Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78) Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya.

3. Pernikahan Yang Haram Hukumnya

Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya. Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya. Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya. Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah. Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak.

4. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya

Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah. Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.

5. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya

Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya. Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah.

(Source: Blog Boecharyst TUDelft.NL)

*posted in purpose.. because I do really want to married soon! Haha.. 😀