Archive

Posts Tagged ‘kepercayaan’

Keyakinan

June 19, 2011 4 comments

Tidak mudah untuk memiliki keyakinan akan sesuatu apabila seseorang tidak benar2 mempercayai bahwa hal tersebut memang tepat untuk diyakini. Keyakinan adalah keteguhan untuk berpegang pada sesuatu yang ia percaya akan membawa kebaikan pada dirinya. Entah baik dalam arti apapun, bagaimanapun, dan kapanpun. Definisi ‘baik’ akan sangat berbeda bagi satu individu dengan individu lainnya, dan sarat akan nilai yang tidak akan pernah bisa ditetapkan suatu nilai mutlak yang melekat pada dirinya.

Keyakinan dapat ditempatkan dalam ranah apapun di dunia ini. Dalam segala aspek kehidupan, berbagai bentuk dan penjabaran nilai dapat mewakilinya. Agama, kepercayaan, optimisme, berpikir positif, rasa cinta, kesetiaan, begitu banyak sisi hidup kita yang disentuhnya. Kadang kala kita tidak menyadari bahwa keyakinan itu adalah pondasi dari segala gerak langkah kita dalam menjalani hari. Untuk apa kita bersusah payah bangun untuk menunaikan ibadah solat Subuh apabila kita tidak meyakini bahwa itu wajib untuk dilakukan? Untuk apa kita pantang menyerah dalam mengusahakan sesuatu apabila kita tidak memiliki keyakinan bahwa usaha kita akan berhasil? Untuk apa kita bersikeras mempertahankan suatu hubungan percintaan yang sedang dilanda permasalahan yang menghadang?

Semua jawaban atas pertanyaan itu ada dalam diri kita. Keyakinan, keyakinan, dan keyakinan. Tidak ada alasan bagi seorang ibu untuk memarahi kesalahan anaknya apabila ia tidak meyakini bahwa itu demi kebaikan. Tidak ada alasan bagi seorang dokter untuk berhenti mengobati pasiennya yang diambang hidup dan mati apabila ia tidak meyakini bahwa itu adalah kewajibannya untuk menolong sampai titik darah penghabisan. Dan tidak mungkin ribuan pahlawan kita yang wafat di medan perang  merelakan nyawanya melayang apabila mereka tidak meyakini bahwa kemerdekaan di atas segalanya, bahkan di atas hidupnya sendiri.

Dan saya pun sudah mengetik terlalu banyak kata-kata untuk menguatkan diri, membangun kepercayaan dalam hati, bahwa saya pun harus bisa memiliki keyakinan itu. Sebenarnya, saya termasuk orang yang tidak teguh dalam pendirian, mudah sekali mengubah keputusan berdasarkan hal-hal yang belum saya pertimbangkan masak-masak. Telah terjadi sekian lama, dan belum juga berubah menjadi lebih baik. Dan sekarang sudah saatnya saya buang jauh-jauh predikat “plin-plan” itu. Tidak ada untungnya bagi saya. Bahkan saya rugi.. rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran dan perasaan.

Tidak. Saya sudah harus berubah. Sudah saatnya. Dan inilah saatnya ia datang.

Keyakinan.

.

Regards,

Elvitria

Advertisements

Kredibilitas Sederhana Seorang Bapak Penarik Becak

July 2, 2010 6 comments

Setiap hari saya menggunakan jasa angkutan umum dari tempat kerja menuju tempat tinggal saya di Pasuruan, dan turun di persimpangan jalan yang cukup dekat. Namun cukup jauh juga bila ditempuh dengan berjalan kaki. Oleh karena itu saya hampir selalu menggunakan jasa becak setiap hari. Kemarin sore, seperti biasa di tempat saya turun dari angkutan umum, saya langsung memanggil bapak penarik becak. Saya langsung saja naik tanpa tawar-menawar harga. Sampailah saya di depan rumah, dan saya mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah.

“Ada kembalian, pak?” ucap saya kepada bapak penarik becak.

“Aduh, bapak baru berangkat ning, belum ada uang kembalian.”

Saya berpikir sebentar. Karena biasanya tarifnya adalah dua ribu rupiah, saya bingung juga apa lima ribu ini saya ikhlaskan saja.

“Kalau begitu, besok pagi jam setengah tujuh bapak kembali kesini ya, antar saya ke tempat tadi.” ide itu muncul dan langsung saya sampaikan. Kalau mau hitung-hitungan nih, berarti kan hari ini dua ribu, besok pagi dua ribu, masih ada kembali seribu buat bonus si bapak aja lah. Hehe..

“Oh gitu ya, ning. Iya ning.” Dan akhirnya beres juga masalah per-becak-an ini.

Sebenarnya saya nggak yakin juga apa si bapak akan kembali lagi besok pagi. Toh, saya nggak kenal dia, dia nggak kenal saya. Belum tentu juga besok akan ketemu lagi. Apalagi “piutang” saya di bapak juga hanya beberapa ribu rupiah yang sebenernya nggak ada artinya dibandingkan paket Blackberry Internet Service yang biasa saya pakai (Mahal! Sehari lima ribu! Hehe..) Jadi ya saya ikhlas aja andai si bapak besok pagi nggak kembali lagi. Dan saya sudah menutup kasus becak thing ini.

***

Pagi menjelang. Hari ini saya bersiap untuk beraktivitas kembali. Saya sempat ngobrol dulu dengan teman sebelah kamar sebelum saya dipanggil oleh ibu kos.

“Mbak mbak, ada yang pesen becak kah? Dari tadi ada becak yang nunggu di depan rumah lho, dari jam 6 pagi.”

Wew.. apakah itu pak becak yang kemarin sore? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Sepertinya becak saya itu, Bu. Terima kasih ya.”

Setelah siap untuk berangkat, aku bergegas ke depan rumah untuk menjawab penasaran dalam hati seputar becak yang sebenarnya sudah aku tutup kisahnya tadi malam. Aku pun membuka pintu pagar dan disanalah pak becak kemarin sore berdiri. Tampak sudah standby and ready to go.

“Mbak, saya semalam ndak bisa tidur mbak karena punya utang sama mbak. Mari saya antar.”

Dan saya hanya bisa tersenyum dan langsung naik ke becak si bapak tanpa basa-basi.

Begitu sampai di tempat tujuan, saya berinisiatif untuk memberikan “tip tambahan” untuk si bapak karena saya kagum ia benar-benar kembali ke rumah saya sesuai yang ia janjikan kemarin sore. Si bapak yang merasa bahwa uang saya berikan kemarin sudah cukup kemudian berkomentar,

“Lho mbak, kok masih ditambahi lagi?”

Dan saya jawab, “Iya nggak apa-apa pak, ini untuk bapak karena bapak sudah kembali ke rumah saya pagi ini.”

***

Tuhan, masih ada sosok yang begitu bisa dipercaya seperti pak becak ini. Hanya tiga ribu rupiah saja yang diperhutangkan, tetapi sang bapak sadar betul bahwa kepercayaan yang sedang dipertaruhkan. Bukan berapa jumlahnya, tetapi berapa harga suatu label ‘bisa dipercaya’. Wahai para pejabat yang hobi korupsi, tidak kah malu terhadap pak becak yang saya temui ini? Tiga ribu rupiah saja, tapi si bapak mau kembali. Jutaan atau milyaran atau triliunan yang kalian curi, namun masih saja bangga berdasi dan tampak suci. Memalukan sekali. Pak becak dengan pakaian lusuh dan wajah berkerutnya, jauh lebih mulia di mata saya dibandingkan jas dan dasi yang kalian kenakan sehari-hari.

Pak becak, terima kasih atas pengalaman berharga pagi ini. Seharusnya para koruptor itu berguru kepada bapak tentang arti kredibilitas. Tidak perlu muluk-muluk, tidak perlu menebar janji. Dan sebaik-baik kepercayaan adalah kredibilitas yang sederhana seperti bapak yang sudah bapak buktikan kepada saya tadi pagi. Semoga Allah meluaskan rejeki untuk bapak.

.

Best regards,

-intan-