Archive

Posts Tagged ‘ibadah’

Meluruskan Niat

December 14, 2010 Leave a comment

 

Hanya untuk beribadah kepada-Mu hamba menjalani ini, Ya Allah..

Jika memang baik untuk hamba maka mudahkanlah,

Jika memang tidak maka hamba yakin ketentuan-Mu yang lain akan lebih indah,

Amin..

.

14.12.2010

-Hamba-Mu yang (terlalu) banyak meminta-

Memaknai Cinta

September 23, 2010 1 comment

Satu lagu sedang bergema dalam telinga dan pikiran saya. Bahkan, tulisan ini saya buat dengan diiringi lagu tersebut. Sebuah komposisi lama dari Sherina, Jalan Cinta, yang merupakan soundtrack film fenomenal beberapa tahun lalu, Ayat-Ayat Cinta. Secara harmoni, aransemen lagu ini memang luar biasa menurut saya. String yang kental, bernafaskan irama lagu Mesir, membalut lirik dengan makna mendalam pada lagu ini.

Ada sepenggal bait yang menggetarkan–menurut saya:

Ampun yang engkau pinta dalam semua keraguan yang telah meliputi jiwamu
Semoga akan membawa cintamu pada diriku dalam jalan dan ridho-Nya

Begitu agung cinta dilafaskan. Begitu dalam arti yang tersimpan.

Saya, wanita, seorang perempuan, inginkan dengan sangat cinta seperti itu. Cinta yang terasa dalam lingkup suci sebagai berkah. Cinta yang terhembus dalam nadi atas barokah dari Maha Cinta. Karena berlebihan dalam mencintai makhluk juga suatu langkah yang salah. Bukan makhluk yang harus dicintai lebih dahulu, akan tetapi Sang Pencipta; di atas segalanya.

Perjalanan hidup yang saya jalani hingga detik ini masih keliru dalam menempatkan cinta. Cinta kepada seseorang, cinta kepada makhluk, cinta kepada fana. Bukan berarti bahwa saya telah melangkah dengan benar saat ini, bukan. Saya hanya mencoba mencari makna atas apa yang telah terlewatkan.

Amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. -HR Bukhari-

Dan sedikit torehan kata yang saya tulis kali ini, semoga mampu menjadi sebutir amalan yang mampu mendorong saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Karena sesungguhnya tidak akan dihidupkan manusia di dunia ini, melainkan untuk beribadah kepada-Nya.

Insya Allah.

Regards,

-int-

Ketika Nasionalisme Dipertanyakan

May 6, 2010 8 comments

Cukup berat ya tulisan saya kali ini? Hehe.. Enggak juga kok, karena saya memandangnya dari kacamata seorang karyawan swasta yang biasa-biasa saja, bukan politikus atau pengamat politik yang sangat paham seluk-beluk ‘nasionalisme’.

Saya tertarik aja membahas fenomena Ibu Sri Mulyani yang menghebohkan karena siap mundur dari jabatan Maha-Bergengsi di Kabinet yaitu Menteri Keuangan. “Sayang banget, Ibu.. Karena Ibu lah yang paling pantas dan mumpuni dalam menjalankan amanah sebagai Menkeu..”. Rata-rata itulah yang saya tangkap dari timeline account Twitter saya. Reputasi beliau memang te-o-pe be-ge-te. Mungkin untuk lebih lengkapnya kita bisa googling aja. Tapi yang jelas sih beliau mampu mengangkat Indonesia untuk melewati masa krisis sekitar Agustus 2008. Plus beliau termasuk jajaran 30 Besar Wanita Paling Berpengaruh Dunia versi majalah Forbes yang bahkan mengalahkan Hillary Clinton, menurut sumber di salah satu website.

Aduh.. kurang hebat apa coba?? Tapi dasar negara Indonesia, orang pintar yang jelas-jelas dihargai oleh dunia, di negeri sendiri dibuang-buang. Tentu nggak salah kalo ada satu tweet temen saya Tegar Adidharma yang me-retweet artikel dengan kalimat “Orang Indonesia berotak encer & jago akademik bisa kaya raya, asal jangan tinggal di Indonesia”. Wah.. memang kita harus mengelus dada, menunjukkan sedikit keprihatinan dengan kondisi ini. Tapi mau gimana lagi karena itulah kenyataannya.

Semua orang yang diulas di artikel itu memang kawan kita sebangsa, setanah air, satu tumpah darah satu, Indonesia. Tapi mereka juga manusia yang memiliki hak untuk memilih apa yang terbaik bagi mereka. Dihargai di negeri orang daripada di negeri sendiri, tentu akan lebih baik bagi mereka yang memang membutuhkan pengakuan atas kemampuan mereka. Tetapi kalau sudah begini, dimanakah letak Nasionalisme? Dimanakah letak perjuangan bagi negeri ini? Negeri tercinta, Ibu Pertiwi?

Saya tentu hanya orang awam yang melihat dari kacamata saya sendiri. Tapi sebenarnya, pentingkah nasionalisme?

Ternyata TIDAK JUGA. Dalam suatu artikel disebutkan:

Rasulullah SAW bersabda “Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah.“(HR.Abu Dawud). Islam tidak kenal dengan namanya nasionalisme, maksudnya itu tidak diajarkan oleh Islam bahkan harus dijauhi, tidak boleh diperjuangkan. Paham seperti ini dalam Al-Quran dikenal dengan ashabiyah. Rasulullah mempersatukan kaum muhajirin dan anshor dengan satu landasan yaitu akidah Islamiyah. Bukan karena landasan nasionalisme atau yang lainnya. Rasulullah mengumpamakan kita seperti satu tubuh yang saling melengkapi satu sama lain.

Ternyata tidak perlu nasionalisme yang berlebihan, yang cenderung untuk memisah-misahkan. Intinya adalah “saling melengkapi satu sama lain”. Wow.. Saya benar-benar baru tahu tentang hal ini.. Dan hal ini rupanya tidak diketahui secara umum juga, karena saya mengira nasionalisme itu didukung dalam Islam, sesuai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang banyak berpondasi dalam semangat jihad pasukan berani mati yang dipadukan dengan nasionalisme.

Namun singkat saja saya sudahi, tentu semua kembali kepada niat masing-masing. Memilih untuk dihargai di luar negeri, atau bertahan di negeri sendiri, selama semuanya didasarkan atas satu tujuan yaitu ibadah, tentu akan sama di mata Allah SWT.

Dan apapun itu, selama kita memiliki niat yang baik, pasti akan berakhir baik pula.

.

Regards,

-int-