Archive

Archive for the ‘At The Heart Corner’ Category

Keras Kepala

November 12, 2012 Leave a comment

Yang terlintas di kepala saat cari keyword image “keras kepala” adalah hard-headed–biasanya sih klo nyari gambar via google pake bahasa inggris hasilnya lebih masuk akal. Tapi yang keluar malah foto ini. Salah.

Saya coba lagi pake keyword lain yang lebih tepat, yaitu stubborn. Dan yang ini memang lebih tepat..

Nah.. Ini nih yang saya maksud. Stubborn woman alias ‘wanita keras kepala’. Sebagai informasi, saya bukan mau menceritakan orang lain kali ini. Saya mau menceritakan tentang diri saya sendiri.. 😐

Singkatnya, ada saja kesalahan saya sebagai seorang perempuan, yang bermula dari sifat keras kepala yang sangat kuat. Saya memang dari lahir seperti ini, kata orang jawa istilahnya suka ngeyel klo dibilangin atau dinasehatin. Dari dulu sulit sekali dinasehatin orang-orang di sekitar saya. Orang tua sekalipun. Dan biasanya juga nasehat apapun ya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Tapi kali ini saya kaget.. Karena yang mengatakan hal ini adalah suami saya sendiri.

Waduh, beda rasanya diprotes orang lain dengan diprotes suami sendiri. Apalagi mengingat suami saya itu baik banget dan sabar banget dan ngalah banget. Berarti emang saya kelewatan nih. Maafkan aku ya, dear suami.. Tidak pernah ada maksud untuk ndableg, ngeyel, atau nggak nurut lhoh. Tapi kayaknya udah jadi suatu kebiasaan buruk.. Kalo nggak ngeyel kok rasanya nggak enak gitu, ada yang kurang..*krik

Maaf ya, suamiku.. Lewat tulisan ini, terukir janji kecil dalam hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aku tahu kamu hampir tidak mungkin membaca posting ini, karena alamat blogku pun kamu tidak tahu.. hehe. Tapi biarlah ini menjadi perjanjian dengan diriku sendiri tanpa kamu ketahui, bahwa aku ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.. Terutama untukmu, dan juga el niño, calon buah hati kita yang sedang menanti lahir ke dunia.

Mudah-mudahan aku bisa ya.. Insya Allah.. (:

.

Con amor,

tu esposa,

Intan

“Mocha, ayo pulang..”

September 17, 2012 2 comments

Mocha itu nama landak mini perempuan peliharaan saya dan suami. Beli di Surabaya minggu lalu sepasang dengan landak jantan (namanya Mochi), dan baru sampai di Jakarta (dikirim) hari Rabu, 12 Sept yang lalu. Dia lucu banget tapi sekaligus bandel bangetttt.. Sukanya diajak main ke taman depan rumah, dan kalo nggak diturutin ngambek. Manja juga, kalo minum harus ditawarin. Duh, bandel pokoknya. Tapi kami sayang dia karena dia nggemesin bangett..

Dan pagi ini kami baru sadar kalo dia hilang. Kabur entah kemana.. Sepertinya dia dapat kesempatan lolos dari kandangnya (entah gimana). Kami udah cari kemana-mana tapi gk ketemu juga. Saya sedih bangettt.. karena dia sangat penakut, takut kalo diapa-apain ama kucing, anjing, atau apapun. Khawatir juga gimana makannya, minumnya, mainnya.. hiks.. 😥

Dear Mocha, ayo pulang.. Kami kangen.. Mudah-mudahan kamu bisa pulang lagi yah, nak.. Kalaupun nggak pulang, semoga kamu sehat & baik2 saja dimanapun kamu berada.. Aamiin.

Ini ada satu foto saya bersama Mocha. Hopefully it’s not our first and last photo together..

Hola, Allah..

August 23, 2012 2 comments

Hola, Allah..
¿Que tal?

Saya lagi, saya lagi.. Makhluk-Mu yang datang dan pergi. Datang saat meminta sesuatu, dan pergi lagi setelah memperoleh sesuatu itu. Maafkan ya, Allah.. Sifat dasar manusia itu memang kental melekat pada manusia ciptaan-Mu yang ini.

Kali ini hamba datang lagi, untuk meminta lagi. Satu hal lagi, yang nanti pun akan bercabang menjadi permintaan yang lain-lainnya lagi..

Bolehkah kami memilikinya, ya Allah?
Bolehkah..?

Engkau Maha Tahu dan Paling Tahu jika memang sudah waktunya kami memperolehnya.

Bismillah.. Ojala.. (:

.

Intan y Edwin

No Me Gusta

February 21, 2012 Leave a comment

No me gusta.


I don’t like the way he said about it. That’s it.

I just want to say it, and then it will comes out, and I’ll be worry-free after.

Listo.

How To?

August 28, 2011 3 comments

How to stop something that doesn’t even started?

How to get rid of something that doesn’t even exist?

How to escape from a place that you don’t even entered to?

And how to let go something that you never even had?

Ambivasi

June 4, 2011 2 comments

Ada kalanya semua yang terjadi dalam hidup sama sekali tidak ada yang sejalan dengan rencana. Entah itu di dalam pekerjaan, hubungan sosial dengan teman-teman, keuangan, apalagi asmara. Everything is so unright.

Tipis perbedaan antara motivasi dan ambisi. Sama-sama ingin mencapai sesuatu. Sama-sama bekerja keras untuk memperoleh sesuatu. Sama-sama bertujuan untuk mendapatkan sesuatu. Lantas, apa perbedaannya?

Apabila motivasi mampu membawa seseorang untuk terus meningkatkan kemampuannya dengan energi positif, lain halnya dengan ambisi yang memiliki kecenderungan melakukan apa saja yang diperlukan meskipun itu adalah negatif. Motivasi adalah memandang kompetitor lain sebagai teman dalam bersaing. Sedangkan ambisi–hampir bisa dipastikan–pesaing lain adalah musuh yang sebisa mungkin dihalangi untuk mencapai keberhasilan.

Hemm.. Sebenarnya saat ini saya sedang menata ulang hati dan diri saya. Apakah memiliki motivasi? Ataukah ambisi yang sedang berbicara? Saya pun belum memiliki keberanian untuk mengakui kalau pun ternyata itu adalah ambisi. Hmm.. Dibalik sifat diri saya, ternyata masih jauh dari tulus dan ikhlas untuk menerima bahwa ‘tidak baik untuk memiliki ambisi’.

Apa sebenarnya yang aku kejar?
Apa sebenarnya yang aku inginkan?

Butuh waktu untuk merenungi diri, memastikan hati untuk menjawab dengan jujur kepada diri sendiri atas pertanyaan-pertanyaan itu.

“Yang luput dari diri kita adalah sesuatu yang bukan milik kita & apa yang akan mengenai kita tidak akan meleset dari diri kita juga.” -fb temen-

.

Regards,
-elvitria-

Ketika Mimpi Terbentur Kodrat

February 3, 2011 5 comments

Sebelumnya tidak pernah aku kira, bahwa tingginya mimpi-mimpi untuk berkeliling dunia dan semacamnya akan menyentuh sisi terdalam dari sudut hati. Apa yang tampak indah dan berkilau, ternyata belum berarti semua akan indah dan membahagiakan.

Dan aku sampailah pada titik tumpu perasaan dan emosi, sedikit merasa terbebani dengan apa yang dulu aku kejar sebagai suatu ingin dan ambisi.

Menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri, untuk nantinya menjajal penjuru bumi dan negeri untuk mengabdi pada negara, tampak indah pada awalnya. Mengesampingkan kodrat dan melupakannya sejenak, semua begitu cemerlang dan bagai mimpi tertinggi sudah berada dalam genggaman. Tapi bukankah aku ini wanita? Aku terlahir untuk mengabdi pada keluarga. Dan bukan terpisah tidak jelas dari orang terdekat hanya demi membela sebuah kata yaitu “profesi”.

Aku tidak pernah memperhitungkan. Mungkin memang sudah sempat aku prediksikan, tapi tentu kuatnya cita mengalahkan rincian-rincian perhitungan cinta dan hal kecil yang seharusnya turut mengiringi setiap langkah yang akan diputuskan.

Disinilah aku berpijak. Kaki terhentak pada kebimbangan yang nyata. “Apakah mimpi akan cita lebih mulai dibandingkan dengan indahnya cinta? Apakah mengabdi pada profesi lebih baik daripada sebuah predikat sederhana yaitu ‘istri’?

Ya Allah.. Hamba yakin takkan Kau berikan nikmat sekaligus cobaan ini apabila hamba tak mampu untuk menghadapinya di kemudian hari.. Hamba ingin melakukan yang terbaik untuk hidup hamba dan orang-orang di sekitar hamba. Hanya Engkau yang memahami pelik dan galau nurani yang tengah berkecamuk ini. Sungguh kuserahkan semuanya di tangan takdir-Mu, Ya Allah..

Amin, Amin, yaa Robbal Alamin.

Hamba-Mu,
-int-