Archive

Archive for November, 2010

Mbak Endah

November 30, 2010 2 comments

Jadi siapakah sosok “Mbak Endah” yang bahkan sampe jadi judul blog post ini?? Maap ya, belum-belum udah mengagetkan dunia dengan pertanyaan mengenai yang bersangkutan ini.. hehe..

Sebagai pengantar, semalam saya YM-an panjang lebar dengan sahabat saya–mungkin bukan sahabat lagi kayaknya, tapi the best-best-best-friend-forever-and-ever in the world, yang bernama Wiranti Ayu Herlieta. Melanjutkan episod demi episod g.a.L.a.u kami dari hari ke hari yang tak kunjung usai, dan bahkan mungkin tak akan pernah usai. Hah! 😀

Singkat cerita, entah bagaimana, masuklah kami ke obrolan mengenai sesosok wanita yang dia kenal, bernama Mbak Endah ini. Apa yang membuat kami sampai membahas dia? Jadi begini. Topik pembicaraan kami mulai mendalam, seputar kedudukan perempuan yang dengan alasan emansipasi, pada akhirnya memiliki jenjang kehidupan, status sosial, dan mungkin materi yang lebih tinggi dari pasangannya atau suaminya. Kalau memandang dari paradigma ideal menurut kacamata saya pribadi, pasangan ideal adalah pasangan dimana sang suami adalah sosok yang sukses, mapan, dan tentunya melebihi istri. Istri dari suami tersebut, boleh saja juga memiliki jalur karir yang bagus, akan tetapi hanya bersifat sekunder saja, untuk membantu memikul beban hidup suami–sekedar pelengkap lah. Dan perdebatan saya dan Wiranti timbul saat kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.

Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Yaitu sang istri memiliki jenjang karir, status sosial, dan lebih sukses daripada suami?

Saya agak gamang menilainya. Yang begini nih alamat sang istri akan berbuat seenaknya sendiri, merasa tidak butuh suami lagi, dan bahkan (Naudzubillahi min dzalik) akan merasa harus berpisah atau bercerai dari suaminya karena sudah merasa cukup HEBAT untuk hidup sendiri. Banyak lah contoh, terutama artis kita. Misal KD yang menggugat cerai Anang, Mulan Jameela yang juga sudah bercerai dengan suaminya sejak sukses di Republik Cinta, belum lagi Rachel Maryam yang menggugat cerai suaminya Ebes sejak jadi Anggota DPR. Ya kurang tahu juga sih apa iya kesuksesan sang perempuan yang memicu perceraian mereka, tapi kok ya “kebetulan” aja pas momennya. Ato hanya “dipas-pasin” aja? Nggak tahu lah. Intinya sih, wanita yang sukses jauh melampaui suami dan tidak kuat imannya, akan berakhir bubar dan keluarganya hancur. Tapi Wiranti kemudian cerita tentang sosok Mbak Endah ini, yang bisa sukses dalam karirnya jauh melampaui sang suami, namun tetap keutuhan rumah tangganya terjaga.

Pake sihir atau apa? Ternyata kuncinya hanya satu: menjunjung tinggi rasa hormat kepada suami. Sesuai cerita Wiranti, Mbak Endah ini boleh dibilang secara karir dan kemapanan jauh melebihi sang suami. Tapi segala kelebihan itu hanya dibiarkan saja semuanya di luar rumah. Si embak tampak lebih sukses, tampak lebih mapan, tampak lebih segalanya, memang itu tidak akan bisa dipungkiri atau ditutup-tutupi. Tapi semua fakta itu akan lebur, sirna dalam sekejap ketika si embak berada di hadapan sang suami. Di depan suami, Mbak Endah adalah seorang istri yang secara kodrat ikhlas, tulus, patuh atas segala apa yang diperintahkan oleh suami, tanpa pernah sedikitpun membawa-bawa kedudukannya yang lebih tinggi dalam karir di rumah. Toh, saat sang suami merasa minder karena dirinya “kurang” dibandingkan dengan istrinya itu, Mbak Endah hanya menjawab dengan santun, “Apa yang saya peroleh ini adalah rejeki kita berdua dari Allah Swt, mas.. Hanya saja jalannya melalui saya.” Subhanallah.. luar biasa sekali Mbak Endah ini.. Satu sosok wanita yang wajib diteladani oleh semua wanita sebayanya..



Diskusi semalam bener-bener penuh ekspresi, kekaguman, rasa salut, dan semua pujian yang bertubi-tubi dariku dan Wiranti. Hebat sekali si embak ini ya.. Sungguh harta yang amat sangat berharga di jaman edan dan serba materi seperti sekarang. Kisah ini membuka pikiran saya betapa semua hal yang dilandasi dengan niat baik, dengan izin Allah akan berakhir baik pula. Seorang istri yang sungguh-sungguh berniat untuk berbakti kepada sang suami, tentu akan diberi kemudahan oleh Allah Yang Maha Besar. Paradigma saya pun terpatahkan. Definisi ideal kini telah berganti. Bukan pada kesuksesan atau kemapanan semata, akan tetapi seberapa besar kedua insan yang berpadu dalam pernikahan ini mampu menghayati dan menjalankan kewajiban masing-masing sesuai jalan yang diridhoi Allah SWT.

Semoga bisa bermanfaat untuk semuanya. Termasuk juga diri saya sendiri. Insya Allah.

.

Regards,

-Intan-

Shania Twain – You’ve Got A Way

November 30, 2010 Leave a comment

One song keeps remains in my head and reminds me of one person..

Shania Twain – You’ve Got A Way

You’ve got a way with me
Somehow you got me to believe
In everything that I could be
I’ve gotta say-you really got a way
You’ve got a way it seems
You gave me faith to find my dreams
You’ll never know just what that means
Can’t you see… you got a way with me

It’s in the way you want me
It’s in the way you hold me
The way you show me just what love’s made of
It’s in the way we make love

You’ve got a way with words
You get me smiling even when it hurts
There’s no way to measure what your love is worth
I can’t believe the way you get through to me

It’s in the way you want me
It’s in the way you hold me
The way you show me just what love’s made of
It’s in the way we make love

Oh, how I adore you
Like no one before you
I love you just the way you are

It’s in the way you want me
It’s in the way you hold me
The way you show me just what love’s made of
It’s in the way we make love

It’s just the way you are

Kita Inginkan vs Kita Butuhkan

November 23, 2010 Leave a comment

Memahami hikmah saat kita tidak mendapatkan apa yang kita “inginkan” sangatlah sulit.

Saat tiba waktunya kita memperoleh yang lebih baik, baru kita sadari & syukuri kenapa kita tidak mendapat yang kita “inginkan” di masa lalu.

Sumber kekecewaan sebenarnya hanyalah perbedaan antara yang kita “inginkan” dengan yang nyata-nyata kita “dapatkan”.

Padahal Allah Maha Tahu, belum tentu yang kita “inginkan” itu baik untuk kita, sehingga kita diberi sesuatu yang lain yang memang kita “butuhkan”.

Andai hati ini selalu bersyukur dan yakin atas apapun yang terjadi sesungguhnya itu baik, maka tidak akan kita sedih atau kecewa dalam hidup ini.

Tapi memang bersyukur itu tidak mudah, kok. Perlu pendalaman, menundukkan diri, dan berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, kan? Semoga kita bisa menjadi seseorang yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun. (:

.

For all the people with “ikhlas” problem in their heart (including me then),

Intan

Hukum Pernikahan dalam Islam (Repost)

November 12, 2010 Leave a comment

Hanya repost.. tapi Insya Allah bermanfaat utk menambah wawasan.

Dalam pembahasan ini kita akan berbicara tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama ketika membahas hukum pernikahan, menemukan bahwa ternyata menikah itu terkadang bisa menjadi sunnah, terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan. Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah satu persatu.

1. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya

Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya. Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya : Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33)

2. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya

Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif. Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT. Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam. Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78) Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya.

3. Pernikahan Yang Haram Hukumnya

Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya. Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya. Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya. Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah. Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak.

4. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya

Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah. Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.

5. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya

Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya. Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah.

(Source: Blog Boecharyst TUDelft.NL)

*posted in purpose.. because I do really want to married soon! Haha.. 😀