Home > Just Me > Kredibilitas Sederhana Seorang Bapak Penarik Becak

Kredibilitas Sederhana Seorang Bapak Penarik Becak

Setiap hari saya menggunakan jasa angkutan umum dari tempat kerja menuju tempat tinggal saya di Pasuruan, dan turun di persimpangan jalan yang cukup dekat. Namun cukup jauh juga bila ditempuh dengan berjalan kaki. Oleh karena itu saya hampir selalu menggunakan jasa becak setiap hari. Kemarin sore, seperti biasa di tempat saya turun dari angkutan umum, saya langsung memanggil bapak penarik becak. Saya langsung saja naik tanpa tawar-menawar harga. Sampailah saya di depan rumah, dan saya mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah.

“Ada kembalian, pak?” ucap saya kepada bapak penarik becak.

“Aduh, bapak baru berangkat ning, belum ada uang kembalian.”

Saya berpikir sebentar. Karena biasanya tarifnya adalah dua ribu rupiah, saya bingung juga apa lima ribu ini saya ikhlaskan saja.

“Kalau begitu, besok pagi jam setengah tujuh bapak kembali kesini ya, antar saya ke tempat tadi.” ide itu muncul dan langsung saya sampaikan. Kalau mau hitung-hitungan nih, berarti kan hari ini dua ribu, besok pagi dua ribu, masih ada kembali seribu buat bonus si bapak aja lah. Hehe..

“Oh gitu ya, ning. Iya ning.” Dan akhirnya beres juga masalah per-becak-an ini.

Sebenarnya saya nggak yakin juga apa si bapak akan kembali lagi besok pagi. Toh, saya nggak kenal dia, dia nggak kenal saya. Belum tentu juga besok akan ketemu lagi. Apalagi “piutang” saya di bapak juga hanya beberapa ribu rupiah yang sebenernya nggak ada artinya dibandingkan paket Blackberry Internet Service yang biasa saya pakai (Mahal! Sehari lima ribu! Hehe..) Jadi ya saya ikhlas aja andai si bapak besok pagi nggak kembali lagi. Dan saya sudah menutup kasus becak thing ini.

***

Pagi menjelang. Hari ini saya bersiap untuk beraktivitas kembali. Saya sempat ngobrol dulu dengan teman sebelah kamar sebelum saya dipanggil oleh ibu kos.

“Mbak mbak, ada yang pesen becak kah? Dari tadi ada becak yang nunggu di depan rumah lho, dari jam 6 pagi.”

Wew.. apakah itu pak becak yang kemarin sore? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Sepertinya becak saya itu, Bu. Terima kasih ya.”

Setelah siap untuk berangkat, aku bergegas ke depan rumah untuk menjawab penasaran dalam hati seputar becak yang sebenarnya sudah aku tutup kisahnya tadi malam. Aku pun membuka pintu pagar dan disanalah pak becak kemarin sore berdiri. Tampak sudah standby and ready to go.

“Mbak, saya semalam ndak bisa tidur mbak karena punya utang sama mbak. Mari saya antar.”

Dan saya hanya bisa tersenyum dan langsung naik ke becak si bapak tanpa basa-basi.

Begitu sampai di tempat tujuan, saya berinisiatif untuk memberikan “tip tambahan” untuk si bapak karena saya kagum ia benar-benar kembali ke rumah saya sesuai yang ia janjikan kemarin sore. Si bapak yang merasa bahwa uang saya berikan kemarin sudah cukup kemudian berkomentar,

“Lho mbak, kok masih ditambahi lagi?”

Dan saya jawab, “Iya nggak apa-apa pak, ini untuk bapak karena bapak sudah kembali ke rumah saya pagi ini.”

***

Tuhan, masih ada sosok yang begitu bisa dipercaya seperti pak becak ini. Hanya tiga ribu rupiah saja yang diperhutangkan, tetapi sang bapak sadar betul bahwa kepercayaan yang sedang dipertaruhkan. Bukan berapa jumlahnya, tetapi berapa harga suatu label ‘bisa dipercaya’. Wahai para pejabat yang hobi korupsi, tidak kah malu terhadap pak becak yang saya temui ini? Tiga ribu rupiah saja, tapi si bapak mau kembali. Jutaan atau milyaran atau triliunan yang kalian curi, namun masih saja bangga berdasi dan tampak suci. Memalukan sekali. Pak becak dengan pakaian lusuh dan wajah berkerutnya, jauh lebih mulia di mata saya dibandingkan jas dan dasi yang kalian kenakan sehari-hari.

Pak becak, terima kasih atas pengalaman berharga pagi ini. Seharusnya para koruptor itu berguru kepada bapak tentang arti kredibilitas. Tidak perlu muluk-muluk, tidak perlu menebar janji. Dan sebaik-baik kepercayaan adalah kredibilitas yang sederhana seperti bapak yang sudah bapak buktikan kepada saya tadi pagi. Semoga Allah meluaskan rejeki untuk bapak.

.

Best regards,

-intan-

  1. July 2, 2010 at 2:27 am

    keren banget ceritanya…saya salut…makasih banyak infonya..sangat bermanfaat,,,

    • July 2, 2010 at 6:57 am

      terima kasih kembali sudah berkunjung..
      semoga benar2 bisa bermanfaat dan menginspirasi.. (:

  2. July 6, 2010 at 8:42 pm

    ouch…
    touchingg…
    aku punya utang brapa banyak ke mama papa,
    bLum bisa ngembaLiin >.<

    • July 8, 2010 at 1:29 am

      hehe..bisa aja nih,darlaa..
      klo itu cara bayarny bukan dgn uang,sayank..dgn pncapaian2 yg bs bikin mrk bangga sbg ortu..(sok wise gini..hehe..)

  3. Farida
    July 22, 2010 at 9:14 am

    like this puollll,,,
    bkn pangkat atau harta yg menjadikan qt mulia,, tp seperti inilah mulia itu,,, ^_^

    • July 23, 2010 at 2:53 am

      iya,farr..
      bener2 ak dibuat kagum ama bapak itu..gk nyangka banget..
      patut diteladani!🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: