
Dan inilah saya. Menyangka dan merasa karma itu tiba. Sepotong demi sepotong hari yang terjalani dan tertenun menjadi satu lembar eksposisi di dalam narasi hidup. Cermin yang hanya mampu memantulkan refleksi situasi diri, namun tiada daya untuk merubah apa yang terlanjur terjadi.
Apa yang saya miliki, apa yang saya jalani, tempat yang saya pijaki, saya mampu berdiri tegak disini. Mandiri. Satu kata ini yang coba saya selami di titik ini. Namun ketika tiba saatnya harus beradu dengan hati, saya sadari ini adalah satu titik lemah bagaikan tombol pemutus aliran listrik yang akan memadamkan cahaya lampu ketika ia ditekan.
Dan ada apa dengan karma?
Saya percaya dunia ini penuh dengan keseimbangan. Keadilan. Benih yang kita sebar, itu pula lah yang akan kita semai.
Wahai hati yang pernah atau mungkin masih tersakiti, ijinkan saya datang untuk bersimpuh memohon ketulusan maaf darimu. Saya begitu kerdil mengira bahwa hati mudah mencintai dan mudah untuk pergi. Namun pada kenyataannya, tanaman yang tercabut hingga ke akarnya akan meninggalkan bekas di tanah. Luka goresan di tangan akan meninggalkan suatu tanda di permukaan kulit. Dan hati yang mampu merasa sejuta rasa, tidak akan mungkin ia terluka tanpa meninggalkan suatu pedih disana.
Dan saya berusaha agar saya tidak terkena karma. Meskipun karma terbesar adalah ketentuan Dia Yang Maha Adil, namun saya percaya ini harus saya lakukan. Hanya beberapa kata tidak berarti yang hampir nihil kemungkinannya untuk tersampaikan kepada seseorang yang dituju, namun ia meringankan hati untuk melepaskan suatu beban yang selama ini menggantung di sudut pikiran.