No Me Gusta
No me gusta.
I don’t like the way he said about it. That’s it.
I just want to say it, and then it will comes out, and I’ll be worry-free after.
Listo.
No me gusta.
I don’t like the way he said about it. That’s it.
I just want to say it, and then it will comes out, and I’ll be worry-free after.
Listo.
How to stop something that doesn’t even started?
How to get rid of something that doesn’t even exist?
How to escape from a place that you don’t even entered to?
And how to let go something that you never even had?
Ada kalanya semua yang terjadi dalam hidup sama sekali tidak ada yang sejalan dengan rencana. Entah itu di dalam pekerjaan, hubungan sosial dengan teman-teman, keuangan, apalagi asmara. Everything is so unright.
Tipis perbedaan antara motivasi dan ambisi. Sama-sama ingin mencapai sesuatu. Sama-sama bekerja keras untuk memperoleh sesuatu. Sama-sama bertujuan untuk mendapatkan sesuatu. Lantas, apa perbedaannya?
Apabila motivasi mampu membawa seseorang untuk terus meningkatkan kemampuannya dengan energi positif, lain halnya dengan ambisi yang memiliki kecenderungan melakukan apa saja yang diperlukan meskipun itu adalah negatif. Motivasi adalah memandang kompetitor lain sebagai teman dalam bersaing. Sedangkan ambisi–hampir bisa dipastikan–pesaing lain adalah musuh yang sebisa mungkin dihalangi untuk mencapai keberhasilan.
Hemm.. Sebenarnya saat ini saya sedang menata ulang hati dan diri saya. Apakah memiliki motivasi? Ataukah ambisi yang sedang berbicara? Saya pun belum memiliki keberanian untuk mengakui kalau pun ternyata itu adalah ambisi. Hmm.. Dibalik sifat diri saya, ternyata masih jauh dari tulus dan ikhlas untuk menerima bahwa ‘tidak baik untuk memiliki ambisi’.
Apa sebenarnya yang aku kejar?
Apa sebenarnya yang aku inginkan?
Butuh waktu untuk merenungi diri, memastikan hati untuk menjawab dengan jujur kepada diri sendiri atas pertanyaan-pertanyaan itu.
“Yang luput dari diri kita adalah sesuatu yang bukan milik kita & apa yang akan mengenai kita tidak akan meleset dari diri kita juga.” -fb temen-
.
Regards,
-elvitria-
Sebelumnya tidak pernah aku kira, bahwa tingginya mimpi-mimpi untuk berkeliling dunia dan semacamnya akan menyentuh sisi terdalam dari sudut hati. Apa yang tampak indah dan berkilau, ternyata belum berarti semua akan indah dan membahagiakan.
Dan aku sampailah pada titik tumpu perasaan dan emosi, sedikit merasa terbebani dengan apa yang dulu aku kejar sebagai suatu ingin dan ambisi.
Menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri, untuk nantinya menjajal penjuru bumi dan negeri untuk mengabdi pada negara, tampak indah pada awalnya. Mengesampingkan kodrat dan melupakannya sejenak, semua begitu cemerlang dan bagai mimpi tertinggi sudah berada dalam genggaman. Tapi bukankah aku ini wanita? Aku terlahir untuk mengabdi pada keluarga. Dan bukan terpisah tidak jelas dari orang terdekat hanya demi membela sebuah kata yaitu “profesi”.
Aku tidak pernah memperhitungkan. Mungkin memang sudah sempat aku prediksikan, tapi tentu kuatnya cita mengalahkan rincian-rincian perhitungan cinta dan hal kecil yang seharusnya turut mengiringi setiap langkah yang akan diputuskan.
Disinilah aku berpijak. Kaki terhentak pada kebimbangan yang nyata. “Apakah mimpi akan cita lebih mulai dibandingkan dengan indahnya cinta? Apakah mengabdi pada profesi lebih baik daripada sebuah predikat sederhana yaitu ‘istri’?
Ya Allah.. Hamba yakin takkan Kau berikan nikmat sekaligus cobaan ini apabila hamba tak mampu untuk menghadapinya di kemudian hari.. Hamba ingin melakukan yang terbaik untuk hidup hamba dan orang-orang di sekitar hamba. Hanya Engkau yang memahami pelik dan galau nurani yang tengah berkecamuk ini. Sungguh kuserahkan semuanya di tangan takdir-Mu, Ya Allah..
Amin, Amin, yaa Robbal Alamin.
Hamba-Mu,
-int-
Mulai kupahami setitik arti dari semua ini
Bukan tentang pertemuan, bukan tentang perpisahan
Kusyukuri saat kita berjumpa
Kenapa harus menyesali saat tiba waktunya berpisah?
Skenario terbaik adalah milik Sang Pencipta
Tugas kita hanyalah mengambil sikap sesuai tuntunan-Nya
Kalau boleh jujur, takut kehilangan itu pasti
Tetapi mungkin di situlah pelajaran terpenting
Mengenai sabar dan ikhlas atas ketentuan Maha Kuasa
Ya Allah..
Kuatkan hamba dalam perjalanan kali ini, Ya Rabb..
Ringankanlah hatiku untuk selalu berserah atas segala yang Kau putuskan
.
17122010
-Hamba-Mu-