Tidak Bersyukur
Dan rasa-tidak-bersyukur itu datang lagi.
Tidak bersyukur karena aku merasa aku diperlakukan tidak adil. Tidak bersyukur karena aku merasa diperlakukan berbeda. Tidak bersyukur karena aku berada dalam lingkar batas yang tidak jelas, antara ada dan tiada.
ADA: karena aku memegang peranan penting bagi orang-orang di sekitarku dan secara nyata aku memang ada.
TIADA: karena aku dibedakan dengan teman sebayaku. Sendiri memikul beban yang mereka tidak tahu seberat apa, dan tidak akan pernah tahu seberat apa.
Aku penting. Aku penting. Aku penting. Tapi mengapa tidak ada yang peduli dengan hal-hal yang penting bagiku?
Hanya satu kupinta saat ini, aku bisa bertahan hingga aku berhasil membawa diriku ke tempat yang jauh lebih baik, jauh lebih mengerti, jauh lebih peduli, bukan hanya sebatas sederet angka yang tertera di slip gaji.
Aku bukan mengeluh, tapi aku hanya tidak bersyukur. Karena mengeluh adalah suatu yang dilakukan karena ada ketidakpuasan di sana. Aku bukan tidak puas. Aku sedih. Namun tak tahu haruskah bersedih atau tidak. Karena itu aku menyebutnya tidak bersyukur. Apabila mengeluh adalah -1 di dalam angka, dan syukur adalah +1, maka tidak bersyukurku adalah 0 yaitu kosong.
Dan aku pun tetap berusaha menjaga hati yang tidak bersyukur ini agar bersyukur, dan jauh aku menghindarkan diri dari mengeluh.
Allah SWT, Penguasa Semesta Alam, maafkan hamba yang tidak bersyukur, namun aku tak ingin kufur, Ya Rabb. Kuatkanlah hamba-Mu ini. Amin.
.
(catatan kecil di tengah gejolak hati saat berada di antara ingin pergi namun tak bisa berlari)









